Purple-licious
Welcome stalker !

Hello everybody! This is Daffodil's blog.Maaf.Ownernya galauan.baperan.mageran.tapi masih waras kok. Jadi tenang aja. Key?

Navigations

Follow me? Stories The Narrator Tagboard


Memories


Credits

PLEASE DO NOT REMOVE THE CREDITS
Skin by Cikin
Cute header byKemetot Chomel
Blog owner: Alexandra Daffodil
Owner

Twitter : @Nisaavitri
Instagram : annisapravitri
Ask.fm : Nisaavitri
Sc : annisadaffodil
Aku ingin menjadi Kamu
Kamis, 20 April 2017 | 10.38 | 0 comments

Sesekali aku ingin menjadi kamu, yang dengan mudah pergi tanpa peduli seseorang yang menunggumu.
Orang yang dirindukan tetapi sering terlihat mengabaikan.
Orang yang dipercaya tetapi malah memilih berbuat dusta.
Aku pikir menjadi kamu barangkali akan menyenangkan.
Aku ingin menjadi kamu yang sekejap waktu bisa berlalu.
Memilih orang baru lalu tersenyum kembali.
Sungguh semua yang kamu lakukan seolah sangatlah mudah.
Kamu bisa jatuh cinta kemudian meninggalkan luka kapan saja kamu mau.
Kamu tak pernah mau tau, apakah hati yang kamu lukai berani jatuh cinta lagi atau tidak
Kamu juga tak pernah mau tau, apakah hidupnya kembali seindah dulu ketika belum mengenalmu atau tidak.
Tetapi perlu kamu ingat bahwa ada hal yang tak pernah bisa kamu dustai yaitu waktu.
Harus kamu pahami, sepandai-pandainya kamu mengolah dusta kelak waktu akan menertawaimu saat dia lelah membiarkanmu bermain dengan semua dusta itu.
Sebenarnya, waktu hanya sedang membiarkanmu mengumpulkan luka untuk dirimu sendiri.
Mungkin kamu memang bisa bangga ketika orang orang tak sadar bahwa kamu sedang berdusta.
Namun, sampai kapan kamu bisa memastikan bahwa dusta membuatmu bahagia?.
Ketahuilah, sejatinya tak pernah ada dusta yang bisa membuatmu benar-benar bahagia.
Semoga luka memang bisa benar benar terobati oleh waktu.
Sehingga setelah itu, aku tidak membencimu lagi dan barangkali luka yang kamu kumpulkan akan sedikit berkurang.


21 April 2017
Happy Kartini's day.


Thanks for unbelievable year, 2016!
Senin, 02 Januari 2017 | 03.51 | 2 comments

Bagiku, setiap waktu adalah baru. Hari baru, bulan baru dan bahkan tahun baru.
Tahun baru, artinya satu tahun panjang, penuh kenangan telah terlewati. Kenangan pahit, kenangan menyesakan juga semua helaan nafas tertahan yang ada seolah olah telah terlewati. Aku sangat menyukainya, walau entah bagaimana aku bisa mengembalikan kenangan indah dari tahun tahun yang lalu. Kenangan yang mungkin tak pernah aku temukan lagi di tahun tahun selanjutnya.

Terkadang aku merasa ingin berhenti disuatu waktu dimana aku sedang merasakan kebahagian yang sempurna, aku juga tak ingin melewati waktu dimana aku harus merasa sedih dan terluka.
Tapi as we know, ini adalah hidup dan hidup akan terus berjalan tanpa tau dan mengerti perasaan kita. Tanpa penduli apakah kita baik baik saja?; apakah kita merasa nyaman?; dan bahkan apakah kita bisa melanjutkan hidup?

Terlepas dari itu semua,
inilah hidup,
selalu ada kenangan indah,
begitupun dengan kenangan pahit.

And then,
Thanks for unbelievable year,2016!
And Welcome to 2017!

Note: Segera hadir coretan coretan lainnya!


You must know.
Rabu, 25 Mei 2016 | 23.37 | 0 comments

Perlu kau tau, aku sudah tak lagi mengharapkanmu kembali.
Aku juga sudah tak ingin kau mengingatku tentang siapa aku atau bagaimana diriku.
Bahkan aku sudah tak mengharap aku akan terlihat olehmu entah hanya sekedar terlihat atau bahkan kau memandangiku.
Apa alasannya? Karena apa? Karena aku yang sudah tak peduli lagi?
Bukan.
Lalu? Karena aku yang sudah menyerah memperjuangkanmu?
Bukan juga.
Karena aku mencintaimu.
Ya benar, aku mencintaimu dan (mungkin) akan tetap seperti ini.
Aku tak lagi mengharapkan kau kembali karena aku percaya (berharap) bahwa kau masih disini, masih bersamaku.
Aku tak ingin kau mengingatku karena aku percaya (berharap) bahwa kau selalu mengingatku dalam diammu.
Aku tak berharap terlihat olehmu karena aku percaya (berharap) bahwa aku akan selalu terlihat jelas olehmu walau sejauh apapun diriku.

-A.ffo


Untuk apa?
Rabu, 11 Mei 2016 | 02.18 | 2 comments

Apa maksudmu?
Kau berniat untuk kembali?
Atau kau hanya kembali untuk menyakitiku lebih dari ini?
Untuk apa ini semua?
Kau membuatku bimbang
Bukankah kau yang menjauh?
Kau juga kan yang mengusirku? Mengusirku untuk pergi dan tak mengharapkanmu lagi
Dan bukankah kau yang akhirnya berlari pergi meninggalkanku dan tak pernah melihat ke belakang / ke arahku sedikitpun?
Kau bahkan tak peduli (lagi) apa yang akan terjadi padaku
Aku yang jatuh
Aku yang terjelembab ketanah
Aku yang sakit sesakit sakitnya
Aku yang gila segila gilanya
Bahkan sekalipun aku berdarah darah sampai matipun mungkin kau tak akan pernah peduli (lagi)
Lalu untuk apa?
Untuk apa kau seolah memberikan secercah harapan itu?
Untuk apa kau menengok ke arahku lagi?
Untuk apa kau menatapku dengan semua rasa perhatian itu (seperti dulu)?
Jika kau ingin aku untuk pergi juga, tetaplah jauhi aku.
Tetaplah berlari meninggalkanku
Tetaplah tak pernah perduli lagi
Tetaplah benci kepada rasa cintamu itu
Tetaplah seperti itu
Jika kau ingin aku tak menunggumu lagi, tetaplah menghindar dariku.
Tetaplah bersikap tak mengenalku
Tetaplah berusaha agar aku tak menghubungimu lagi
Tetaplah menghindar jika akan bertemu denganku
Bukannya aku tak ingin kau kembali, aku sangat ingin kau kembali
Sungguh sangat ingin.
Tapi ada keraguan dalam hatiku
Tolong ingat satu hal, ini pesanku
" Tak masalah jika kau pergi untuk kembali, tapi untuk apa kau kembali jika akhirnya pergi lagi? "


Untitled
Selasa, 26 April 2016 | 00.59 | 0 comments

Saat ini,

Terlalu banyak pertanyaan yang berputar putar di otakku.

Mungkin seperti Ray di novel 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu'

Tapi ini berbeda,

Jika Ray memiliki banyak pertanyaan tentang seluruh kehidupanya.

Aku hanya memiliki banyak pertanyaan tentang setitik masalah hidupku.

Tapi apakah aku boleh bertanya?

Kalau boleh,

Aku ingin bertanya.

Tentang perkenalan kita.

Tentang pertemuan kita.

Tentang waktu kebersamaan kita.

Mengenai aku yang jatuh hati padamu.

Mengenai hal yang membuatmu menjauh.

Mengenai dirimu yang seolah membenciku sekarang.

Perihal dirimu yang kini melupakanku.

Perihal kau yang membuangku jauh jauh dari pikiranmu.

Perihal kau yang sekarang selalu menghindar ketika bertemh denganku.

Apakah aku salah jika aku mengharapkanmu kembali?

Apakah aku bodoh jika aku mengharap menjadi orang yang special bagimu?

Apakah aku egois jika aku tak peduli apapun yang penting kau mencintaiku?

Aku tak menginginkan kata ' maaf ' darimu.

Aku hanya ingin kau kembali.


Heii,

Aku merasa lelah bahkan sangat lelah

Aku ingin pergi,

Tapi aku masih berharap bahwa kau suatu saat akan datang dan menjelaskan semuamya.

Aku ingin bertahan,

Tapi semua kenyataan menyakitkan itu memaksaku, bahkan menyeretku untuk pergi.

Aku tak tau lagi harus bagaimana

Tolong beritahu aku

Aku membutuhkan jawabanmu


Perlu kau tau,

Aku tak pernah menyesal.

Aku tak pernah menyesal bertemu denganmu.

Aku tak pernah menyesal telah jatuh hati padamu.

Hanya ada satu yang aku sesali,

Aku menyesal karena aku tak bisa menahanmu untuk tetap berada di sisiku.


Untuk mengingatmu
Minggu, 17 April 2016 | 04.29 | 0 comments
Aku merindukanmu.
Oya kau benar
kalimatku terlalu klise.
Tapi kau harus percaya,
bahwa aku merindukanmu.
Bahkan sangat sangat merindukanmu.

Saat itu,
aku pikir kau melupakanku
kau sudah tak mengingatku lagi.
Kau bertanya kapan?
Saat itu.
Saat kau memasuki ruangan itu.
Ruangan berwarna putih kehijau hijauan.
Ah, aku tak bisa mendeskripsikannya.
Ruangan yang sangat khas dengan bau obat obatan.
Ruangan yang terdapat satu lampu besar tepat di atasmu.
Ruangan yang membuatmu pergi.
Ruangan yang membuatku menyimpan kerinduan
teramat sangat saat ini.

Kau tau?
Ternyata aku salah.
Salah besar.
Ternyata saat itu,
Kau masih mengingatku,
Kau masih menyebut namaku,
Kau masih menitipkan salam untukku
sebelum Kau memasuki ruangan itu.
Aku terharu mendengarnya.
Terimakasih telah mengingatku saat itu.

Kau tau?
Saat itu,
saat kau pergi.
Aku merasa duniaku runtuh,
aku merasa ingin ikut bersamamu.
Tapi saat itu,
taada yang tau akan perasaanku.
Perasaan seorang gadis cilik
yang ditinggalkan oleh seseorang
yang sangat berarti baginya.

Bolehkah aku meminta sesuatu?
Tolong tunggu aku.
Tunggu aku di tempatmu sekarang.
Tunggu aku di tempat indah itu.
Tempat yang selalu di mimpikan banyak orang.
Tunggu aku untuk bisa bersamamu lagi.
Tunggu aku....

Kau tau?
Bagaimana hidupku sekarang?
Ya sepertinya Kau sudah tau
bahwa hidupku sekarang
terlalu klise.
Terlalu banyak drama.
Terlalu banyak sandiwara.
Kadang aku muak,
tapi seperti yang selalu Kau bilang
Aku harus tetap menjalaninya,
apapun itu.
Tapi perlu Kau tau
Aku membutuhkanmu....

Kau tau?
Sekarang aku sadar,
aku tak akan pernah
menemukan orang sepertimu lagi.
Taakan pernah.
Bahkan sahabatku yang sekarang,
taakan pernah menggantikanmu.

Sekarang aku sadar,
ini semua terjadi karena
Tuhan menyayangimu.
Agar Kau tak usah lagi menahan semua rasa sakit itu.
Agar Kau tak perlu lagi pura pura baik baik saja didepanku.

Sekarang aku sadar,
hatimu terlalu baik
bahkan terlalu sempurna
untuk ukuran bocah cilik saat itu.




Maafkan aku yang tlah membuka kisah ini.
Aku terlalu merindukanmu
dan aku tak kuat lagi untuk menahannya.


Sepotong coretan kecil
Sabtu, 16 April 2016 | 08.57 | 0 comments
Taukah kalian?
Aku takut.
Sungguh.
Aku sangat takut
menghadapinya sendiri.
Ingin rasanya aku berteriak.
Berteriak sekencang yang kubisa.
Berteriak bahwa semua ini 'tak adil'
Tapi aku tak bisa
Aku terlalu takut akan semuanya.
Dan ternyata....
Kalian lah yang lebih dulu berteriak,
berteriak bahwa semuanya 'tak adil'
Tapi bukan atas nama kalian,
melainkan atas nama diriku.
Terimakasih.
Tapi perlu kalian tahu
Aku tak menginginkan semuanya.
Jangan berteriak semua ini 'tak adil',
jika di lubuk hati kalian
kalian masih menyalahkanku.
Jangan berkata 'aku tak masalah'
jika karenaku
kalian tersiksa
Dan jangan pula berucap 'jangan hiraukan'
jika kalian juga memikirkannya sampai terlelap.
Jangan lakukan itu.
Kumohon.
Karena perlu kalian tahu, itu akan lebih menyakitiku.
Taukah kalian?
Aku ingin berteriak.
Berteriak 'tak adil'
Sangat ingin.
Tapi apalah dayaku
Maafkan aku
Biarlah aku tetap diam.
Tanpa kata.
Tanpa suara.
Dan biarlah sorot mataku
yang menjelaskannya.
Semoga kalian mengerti
dan paham akan diriku.
Aku egois.
Iya memang aku egois.
Aku munafik.
Iya memang aku munafik
Aku menyebalkan.
Iya aku selalu menyebalkan
Aku menyadari semuanya.
Terimakasih telah bersabar selama ini.
Taukah kalian?
Aku kadang merasa tak suka.
Bahkan sering.
Sering merasa tak suka.
Ketika kalian membicarakan dia,
menjelek jelekan dia,
menghina dia,
Aku tak suka saat itu.
Ingin aku angkat bicara
bahwa dia tak seburuk itu
dia tak sejahat itu.
Kalian perlu tahu,
Kadang aku tersinggung.
Kadang aku marah.
Ketika kalian mengatainya
Aku ingin menjelaskan bahwa
dia seperti itu karena aku, karena salahku.
Taukah kalian?
Aku tak mau.
Sangat sangat sangat tak mau
Membebani kalian.
Membuat kalian memikirkan ini.
Membuat kalian tak bisa terlelap.
Menmbuat kalian ikut bersalah.
Membuat kalian menangis.
Aku yang harusnya menanggung semua ini.
Aku yang harusnya memikirkannya
Aku yang harusnya menangis.
Bukan kalian
Tapi aku.
Akulah yang memulainya.
Jadi biarkan aku menanggung semuanya.
Terimakasih.
Maaf. [Walau kata maafku tak akan merubah apapun, tapi ketika mengatakannya aku merasa tenang]
Good night kalian ☺


Old things